
Tepatnya 26 Juni kemaren saya melakukan perjalanan ke Semarang, karena saya pulang dari kantor jam 6 sore, maka saya tidak berpikir untuk menggunakan KA Senja Utama yang berangkat jam 19.00 dan biasa saya gunakan jika ke Semarang melakukan wakuncar *yah.. wakuncar, wakakakkaka*
Akhirnya saya memutuskan menggunakan kereta api Tawangjaya [Kelas Ekonomi] dengan tiket hanya seharga 36.000 Rupiah, kita bisa “bergoyang” ria di dalam kereta hingga sampai ke Semarang.
Di tiket yang saya beli tanggal 20 Juni 2009, tertera jam keberangkatan KA Tawangjaya kita tercinta itu pukul 21.30, yang saya tau arti dari informasi itu yang berarti memberitahukan kita bahwa KA Tawangjaya akan berangkat lebih dari jam 21.30. Saya kira semua orang juga tau jam 23.00 adalah bukan sama dengan jam 21.30, ada beberapa dugaan kenapa KA Tawangjaya sampai terlambat berangkat hingga 1.5 jam, yaitu berikut analisa saya :
- Masinis orang Indonesia asli yang menganut paham “kalo bisa nanti, kenapa sekarang”
- Karena musim diare, masinis sedang bersemedi di toilet sambil nyengir kuda.
- Rel kereta antara stasiun senen dengan jakarta kota patah mendadak gara2 gak pernah di maintain
- Semua pegawai KA secara kebetulan adalah orang India yang waktunya lebih telat 2 jam dari Indonesia.
- Semua pegawai KA secara kebetulan tidak mampu melihat waktu karena saking sibuknya.
Dari semua analisa saya, paling masuk akal adalah point ke 6.. *padahal gak ada point ke-6*.
Perjalanan dari kantor saya deket kalideres hingga Stasiun senen dan melanjutkan ke Semarang, melalu beberapa tingkatan Stress. Dan saya berhasil melalui berbagai macam rintangan stress itu dengan sukses karena jam 07.30 keesokan harinya saya sampai di Stasiun Poncol Semarang dan bertemu dengan kekasih hati.
Berikut tahapan2 stress saya ketika melakukan perjalanan nan “indah” itu.
Stress Tahap 1
Karena menggunakan jasa Transjakarta atau sering orang menyebutnya “Jalan Bus” [BUSWAY]. maka antrian memanjang pun sudah umum di terminal Kalideres, dengan gelisah melihat jam di hape, takut gak nyampe tepat pada waktunya. Maka saya terpaksa berdesak2an dan agak sedikit mendorong ketika ada bis yang datang supaya tidak ketinggalan jadual kereta.
Stress Tahap 2
Transjakarta dengan kapasitasnya yang full, maka semua orang berdiri dan saling berhimpitan satu sama lain, kebetulan saya dapat tempat duduk, tapi orang di depan saya yang berdiri terlalu mendekatkan perut nya ke arah muka, sehingga saya agak jijik, apalagi cowo, kalo cewe’ seh.. hehe..
, dengan bau yang kurang sedap saya rasa apalagi itu jam pulang kantor, bau keringat dan jigong sudah umum di sarana angkutan umum.
Stress Tahap 3
Karena saya berangkat terlalu cepat yaitu jam setengah 7 sore dari kantor karena takut terlambat, jadinya saya tiba di Stasiun masih jam 19.40, membuat saya was-was terlalu lama di stasiun, apalagi stasiun senen yang terkenal rawan kriminal itu, tapi saya tetap berbaur dengan yang lainnya di tempat tunggu dengan mengenakan celana pendek, kaos hitam kucel, rambut saya acak2in dan sandal jepit serta tas ransel, sengaja saya berkamuflase seperti itu supaya tidak mencolok dengan yang lainnya
, sedangkan jadual kereta yang tertera di tiket adalah jam 21.30 meskipun akhirnya berangkat jam 23.00, akhirnya selama 2 jam itu saya menelpon dengan si pacar di stasiun, untung pake XL murah
Stress Tahap 4
Setelah jam 21.30 sudah masuk ke Peron, dan bagaikan gembel baru saya duduk di lantai stasiun yang sudah di penuhi orang2 dengan berbagai gaya, ada yang menor, ada yang dandanan anak2 muda sekarang dengan celana jeans sobek2 dan rambut bergaya funky dan menurut dia itu model mutahir masa kini padahal menurut saya tu orang mending ditutupin mukanya pakai kantong plastik biar gak menimbulkan pencemaran visual. Ada juga yang ibu2 membawa anak2nya yang masih kecil dengan menenteng 2 tas gede sendirian, anak satu lagi di gendong karena masih bayi, dan anak satu lagi tidur di paha ibunya, sungguh haru sekali melihat perjuangan seorang ibu supaya anak2nya nyaman. dan terus mengamati keadaan lingkungan sampai saya ngobrol dengan salah satu orang disana hanya sebagai teman ngobrol.
Stress Tahap 5
Inilah puncak dari segala stress yang ada, ketika mulai masuk ke gerbong kereta nomer 4 yaitu gerbong dimana pantat saya di dudukan, saya melihat banyak kursi dengan sandaran yang rusak, jadi mau gak mau para penumpang harus merelakan punggungnya untuk tidak bersandar hingga tempat tujuan, dan saya menjadi salah satunya. Saya tidak bersandar selama kurang lebih 9 jam dan hanya membungkuk ke depan dengan tas ransel yang saya peluk sebagai tumpuan dagu saya jika ingin tidur. Saya tidak sendirian melakukan itu, karena hampir semua penumpang yang duduk di kursi melakukanhal yang sama, tidak bersandar dan hanya membungkuk ke depan atau ke kaca samping, lelah dan penat karena selama perjalanan yang saya lihat hanya layar hitam di balik kaca, dan suara pedagang asongan yang lalu lalang tiada henti, juga orang2 yang tidur di bawah tempat duduk saya, yak.. dibawah tempat duduk saya ada penumpang yang tidur disitu, sehingga gerak kaki saya sangat terbatas. Dengan segala hormat saya pun membatu selama 9 jam di kereta.
Itu serangkaian stress yang saya lalui selama perjalanan.. diantara semua itu paling Stress yaitu yang tahap 5, karena disitu saya hampir mengeluh dan pindah ke bordes gerbong lalu duduk manis di sambungan gerbong itu meskipun dengan suara yang memekakan telinga, tapi saya urungkan mengingat saya belum kawin, sapa tau ntar mati di jalan sebelum kawin kan jadi arwah penasaran
wakakakkakak…
Tapi diantara semua itu, yang paling saya suka dengan para penumpang Kereta Ekonomi Tawang jaya ini adalah rasa Solidaritas satu sama lain yang sangat tinggi, tolong menolong, bahkan saling menyapa meskipun tidak kenal, karena para penumpang merasa satu rasa, berat sama dipikul, ringan sama di jinjing, yang dapet tempat duduk harus menyisakan ruangan bawahnya tempat duduknya untuk di huni penumpang lain sehingga kaki tidak bisa bergerak bebas jika merasa pegal2, yang tidak dapet tempat duduk juga bertoleransi dengan sebisa mungkin tau diri dan selalu mengalah terhadap penumpang maupun pedagang yang lalu lalang yang sudah pasti mengganggu dirinya sendiri…
Akhirnya.. saya secara pribadi sangat memohon kepada PT KAI. Pak pimpinan, tolong diperhatikan sarana umum nya, kereta api kalo tempat duduknya sudah tidak layak ya mbok di benerin, kasian para penumpangnya, jangan mentang2 bayarnya murah trus di telantarkan tanpa perawatan, tolong pak pimpinan, bangsa ini sudah kacau, kalau para pimpinan2 bangsa ini sadar, malu lah dengan bangsa lain yang ada di dunia…
Ok, Semangat ya PT KAI, semoga kalian menjadi seutuhnya sarana angkutan yang layak di tahun2 mendatang.

Lumayan ngebantu juga, karena chipset VGA nya aja udah lumayan GF 8200, lagian sebenernya gak masalah seh VGA nya mau berapa aja, yang penting kan performa buat programmingnya yang mantap 








)













